Namanya Raihana. Dia bernyanyi dengan suara serak-serak kering. Susah
payah. Terputus-putus. Belum selesai satu bait, bis DAMRI mulai bergerak maju
lagi. gadis kecil berbaju kusam itu buru-buru menyodorkan kantong recehnya
pd penumpang. Seratus, dua ratus, ah… Berapalah yang dia dapat, tapi
bibir kecilnya tetap menyunggingkan senyum kecil penuh kesyukuran.
Kaki kecilnya setengah melompat ke aspal yang panas. Lincah, karena
sejak kecil ia melakukan itu. ia menepi, di bawah pohon di pinggir
selokan. ia meraih boneka usangnya. Mungkin berharap bisa bermain sejenak
sebelum bis berikutnya berhenti dan ia melompat kembali untuk bernyanyi,
masih dengan suara sumbangnya…
Ia melintasi jalan-jalan kota yang panas, padat dan sering kali tak
ramah. Lihatlah mata bening di antara wajah yang kusam itu, ada binar di
sana. Entah apa mimpinya. Mungkin dia percaya, dia yakin nasibnya akan
berubah. Atau.jangan -jangan dia bahkan tak mengerti tentang nasib yang
bisa berubah dengan doa, dengan usaha. Mungkin ia mengira ia akan hidup
seperti itu selamanya, seperti ibunya yang sering meneriakinya dengan
kata-kata kasar. yang ia tau saat ini tempatnyadi jalan-jalan, di bis,
dengan kencrengan tutup botol. Alat musik yang begitu sederhana.
"Ah anak jalan. Kalo dikasih uang, mereka makin betah dijalan dan
meminta-meminta seperti itu!" celetuk seseorang di dalam bis DAMRI
Jurusan Batu Merah-Batam Centre.
Lalu aku? Haruskah seumur hidupku melihat ketidak berubahan itu? Ia kecil, lemah, tak sekolah. Bagaimana ia bisa berusaha jika bangku-bangku sekolah begitu diskriminatif, menepikan mereka yang tidak memiliki segepok baiya sekolah. Bagaimana ia bisa berubah, jika manusia-manusia kota sibuk mengurus diri masing-masing.
Katika pagi aku berangkat, dia sudah di sana. Ketika aku makan siang dengan teman-teman kuliah dan menu cukup gizi, ia masih di sana, menggenggam palstik es teh. Sore ketika aku pulang, ia masih di sana. Pun ketika aku akan berbaring di kasur yang nyaman, entah ke mana ia akan pulang.
Lalu bagaimana ia akan berdoa, jika sempitnya hidup membuat ibunya tak sempat mengenalkannya pada sang Rabb, Ilah yang memberikan nyawa, nafas, darah, menglihatan, perasaan… ia tidak sempat berfikir bagaimana ia bisa berada di muka bumi yang panas ini, dan untuk apa? Bagaimana ia bisa berdoa, dengan bahasa dan cara apa, jika ia bahkan tidak tau siapa Tuhannya?
Dan aku? Dengan kecongkakan label mahasiswa dan aktivis, hanya menoleh pada peran-peran yang akan mendongkrak label besarku. Berpusar di sekitar masjid. Padahal banyak yang belum tau di mana letak masjid. Mengatakan kezuhudan, namun tak sempat menoleh untuk melihat mereka yang kepanasan dan kelaparan.
Lalu… Dengan wajah seperti apa aku mampumenghadapMu, Allah? Dengan jawaban apa, dengan alasan apa, karena ternyata di dalam diriku, hartaku, ada haknya. Haknya untuk kukenalkan padaMU. Haknya untuk 2, 5 bagian dari rizkiku yang Kau titipkan. Maafkan Fuliza.. Ya Rabbi.