Assalamu ‘alaikum wr.wb.
Semoga kita umat Islam istiqomah dalam membaca dan mengamalkan(Al-Qur’an Surah Al-’Asr),
Islam sungguh menjaga kesucian ummat nya dengan aturan yang berasal dari sang Khaliq, untuk sempurnya kesucian itu terjaga. Begitu pun dengan pergaulan antara lelaki dan wanita, Allah telah memberikan kesucian terhadapnya yg harus di jaga. Maka Islam tidak pernah mengajarkan apa yang disebut dengan pacaran. Sungguh mengambil sesuatu yang tidak halal adalah keharaman. Atau sama dengan penghinaan terhadap kesucian tersebut, Muslimah ibarat bunga yang begitu indah ketika tercebur kedalam got/selokan maka akan kotor dan sangat hinalah posisi bunga tersebut. Maka andaikan ada bunga yg jatuh ke got/selokan sungguh saudarnya se-Imanlah yg harus membantunya untuk bersih kembali”Baca surat Al-’Asr”,untuk bunga yg belum jatuh ke got/selokan berusahalah untuk tidak sampai jatuh ataupun sekedar mendekati pinggirnya, jadilah para shabiyah yg mencitai Allah,”Say No To Pacaran!!!!!!”
SAY NO TO PACARAN!!!!!!!!!!!, Allah Yes, Rasul Yes, Sahabat Yes,Surga Yes,Neraka No Way,
‘Pesta Demokrasi’: Bukan ‘Pesta Perubahan’
‘Pesta Demokrasi’: Bukan ‘Pesta Perubahan’
[Al-Islam 451] Dalam sistem sekular saat ini, Pemilu sering disebut dengan ’Pesta Demokrasi’. Layaknya sebuah pesta, Pemilu hanyalah luapan kegembiraan sesaat. Kegembiraan itu ditandai antara lain oleh menjamurnya partai peserta Pemilu; ribuan caleg; jutaan spanduk, baliho dan stiker; ramainya media cetak dan elektronik oleh iklan politik; hingar-bingar pidato dan janji-janji para tokoh partai dan para caleg; gegap-gempitanya kampanye yang dibumbui aneka ragam acara hiburan; plus biaya triliunan rupiah.
Namun, layaknya pesta, setelah usai, kondisinya kembali ke keadaan semula. Tidak ada yang berubah setelah Pemilu. Dengan membaca hasil Pemilu sepekan yang lalu, setidaknya berdasarkan perhitungan Quick Count LSI, jelas bahwa partai Pemerintah dan partai-partai besarlah yang tetap menjadi jawara. Yang berbeda hanyalah peringkatnya saja. Partai Demokrat kini di peringkat pertama, mendapatkan 20.27% suara; diikuti Golkar: 14.87% suara, PDIP: 14.14% suara, PKS: 7.81% suara, PAN: 6.05% suara, PPP: 5.32% suara, PKB: 5.25% suara, Gerindra: 4.21% suara, Hanura: 3.61% suara dan PBB: 1.65% suara (TVOne, 9/4/2009). Dengan hasil seperti ini, terbukti bahwa Pemilu tidak membawa perubahan. Pemilu bahkan semakin mengokohkan partai Pemerintah yaitu Partai Demokrat, Golkar serta koalisi partai pemerintah seperti PKS, PPP, PKB dan PBB.
Karena itu, mereka yang terlanjur percaya bahwa Pemilu dalam sistem demokrasi bisa menghasilkan perubahan tampaknya harus kembali ‘gigit jari’. Pasalnya, Pemilu memang sekadar dimaksudkan untuk memilih orang, seraya berharap orang yang terpilih lebih baik daripada yang sebelumnya. Pemilu sama sekali menafikan, bahwa yang dibutuhkan oleh negeri ini bukan sekadar orang-orang terpilih, tetapi juga sistem yang terpilih. Dengan kata lain, Pemilu sama sekali melupakan, bahwa yang dibutuhkan oleh negeri ini bukan sekadar pergantian orang (penguasa dan wakil rakyat), tetapi juga pergantian sistem pemerintahan, politik, ekonomi, sosial, pendidikan dll dengan yang jauh lebih baik. Wajarlah jika usai Pemilu Legislatif ini, juga Pemilu Presiden nanti, perubahan untuk Indonesia yang lebih baik sebagaimana yang diharapkan oleh seluruh rakyat negeri ini tidak akan pernah terwujud, selama kebobrokan sistem sekular yang tegak berdiri saat ini tidak pernah disoal, dikritik dan diutak-atik, sekaligus diganti, karena sudah dianggap sebagai sistem yang baik.
Memang masih ada segelintir orang yang menyerukan pemenangan Islam melalui Pemilu. Padahal mereka tahu, bahwa belum pernah ada sejarahnya Islam bisa menang melalui Pemilu. Sebut saja Masyumi dan NU, yang masing-masing memenangi 112 dan 91 kursi pada pemilu 1955. Namun, akhirnya toh keduanya tetap tidak bisa memerintah. Masyumi kemudian dibubarkan oleh Soekarno pada tahun 1960. Hal yang sama juga terjadi pada FIS di Aljazair. FIS yang menang pada Pemilu 1991 putaran I, dan menguasai 81% kursi parlemen, lalu menang telak pada Pemilu putaran II pada tahun yang sama, akhirnya dibubarkan oleh junta militer. Hal yang sama juga terulang pada Hamas, sebagai pemenang Pemilu di Palestina. Sejak mendominasi Parlemen Palestina melalui Pemilu demokratis hingga kini, Hamas terus dipojokkan, dikucilkan, bahkan berusaha disingkirkan oleh kekuatan-kekuatan sekular dan pihak asing.
Karena itu, mengharapkan terjadinya perubahan, apalagi kemenangan Islam, melalui Pemilu jelas tidak mungkin. Daripada berharap pada sesuatu yang tidak mungkin, lebih baik seluruh potensi umat dikerahkan untuk membangun ‘jalan baru’, yaitu jalan yang pernah ditempuh oleh Baginda Nabi saw. dalam mewujudkan perubahan. Jalan perubahan yang ditempuh Baginda Nabi saw. terbukti telah mampu mengubah bangsa Arab, dari bangsa yang tidak mempunyai sejarah, sampai akhirnya menjadi pemimpin dunia.
Jalan baru ini bukan saja dibutuhkan oleh Indonesia, tetapi juga seluruh umat manusia di dunia. Betapa tidak. Setelah Islam tidak lagi berkuasa, tepatnya setelah institusi Khilafah diruntuhkan pada tanggal 3 Maret 1924 M/28 Rajab 1342 H, dunia telah jatuh ke dalam genggaman Kapitalisme dan Sosialisme. Hasilnya, sebelum krisis keuangan global, ada 4 miliar jiwa, atau separuh penduduk dunia hidup, di bawah garis kemiskinan; 90% kekayaan dunia hanya dikuasai 20% penduduk dunia, sementara 10% sisanya harus dibagi 80% penduduk dunia yang lainnya. Ketika krisis keuangan menerpa dunia sejak 2007 hingga sekarang, para pemimpin G-7 tidak mampu memikul beban krisis tersebut. Mereka pun melibatkan para pemimpin G-20. Dalam pertemuan mereka di London baru-baru ini, disepakati paket stimulus (pendorong) ekonomi sebesar 5 triliun dolar AS. Lebih dari 700 miliar dolar AS di antaranya digunakan untuk membantu IMF. Apa yang mereka sebut stimulus ekonomi, bailout maupun yang lain, nyatanya bukan untuk menyelamatkan kelompok 80% penduduk dunia yang lebih membutuhkan, tetapi justru untuk membantu kelompok 20%, dan tidak lain untuk mempertahankan penjajahan mereka terhadap dunia.
Di Indonesia sendiri, pada tahun ini terdapat 10,24 juta rakyat mengganggur; 33 juta lebih hidup di bawah garis kemiskinan, bahkan jika menggunakan standar Bank Dunia, angkanya bisa mencapai 100 juta orang. Sebanyak 90% kekayaan migas kita juga telah dikuasai oleh kekuatan asing. Belum lagi kekayaan alam yang lainnya. Lihatlah, kekayaan alam kita yang melimpah ternyata hanya menyumbang 20% pendapatan dalam APBN; 75%-nya diperoleh dengan ‘memalak’ rakyat, melalui pajak; sisanya 5% dari perdagangan, dan lain-lain.
Inilah realitas sistem Kapitalisme Sekularisme dan Liberalisme yang mencengkeram kehidupan umat Islam, termasuk di negeri ini.
Jadi, masihkah kita berharap pada sistem yang rusak seperti ini, yang terbukti telah menghempaskan dunia, termasuk Indonesia, ke dalam jurang kehancuran? Orang yang berakal sehat, tentu akan menjawab tidak. Itulah mengapa, seorang Angela Merkel, Kanseler Jerman, beberapa waktu lalu pernah menyatakan, bahwa dunia membutuhkan sistem alternatif.
Kembalikan Kedaulatan Syariah!
Masalah pokok yang menimpa umat Islam saat ini di dunia, termasuk Indonesia, sesungguhnya berpangkal pada tidak hadirnya kedaulatan Asy-Syâri’—Allah SWT—di tengah-tengah kehidupan mereka. Yang justru bercokol selama puluhan tahun justru ‘kedaulatan rakyat’ yang semu. Pasalnya, di Parlemen, selalu yang duduk adalah segelintir orang yang sering justru tidak memihak rakyat, tetapi lebih sering memihak pengusaha, para pemilik modal dan bahkan kekuatan asing. Rakyat malah sering hanya dijadikan ‘sapi perahan’ oleh para wakilnya di Parlemen. UU Migas, UU SDA, UU Penanaman Modal, UU Minerba, UU BHP dll yang dihasilkan oleh Parlemen pada faktanya lebih ditujukan untuk memenuhi kehendak para pemilik modal dan kekuatan asing. Rakyat sendiri tidak tahu-menahu duduk persoalannya. Padahal semua UU tersebut justru berbahaya bagi mereka dan berpotensi menjadikan mereka hanya sebagai korban. Sebelum sejumlah UU di atas diberlakukan saja, negeri ini telah dilanda berbagai persoalan cabang seperti kemiskinan, kebodohan, ketidakstabilan politik, korupsi, nepotisme, perpecahan, penguasaan kekayaan alam oleh segelintir orang, dominasi kekuatan penjajah atas berbagai sumber kekayaan alam kaum Muslim, penjajahan fisik di sejumlah wilayah, dan merebaknya perbuatan-perbuatan tidak bermoral. Semua itu tidak lain sebagai akibat tidak tegaknya kedaulatan syariah akibat disingkirkannya al-Quran sebagai pedoman hidup. Mahabenar Allah Yang berfirman:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (al-Quran), sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit (QS Thaha [20]: 124).
Kewajiban Menegakkan Khilafah
Menegakkan kedaulatan syariah adalah kewajiban kolektif (fardhu kifayah) bagi kaum Muslim. Satu-satunya lembaga yang mampu mewujudkan kedaulatan syariah itu hanyalah Daulah Islam seperti zaman Nabi saw., atau yang kemudian dikenal setelah Nabi wafat sebagai Khilafah, yakni Khilafah ‘ala minhaj an-Nubuwwah (yang tegak berdiri di atas manhaj Nabi saw.) Inilah yang telah dibuktikan oleh sejarah Kekhilafahan Islam selama berabad-abad.
Dalam sistem pemerintahan Islam (Kihlafah), negara ditopang oleh sejumlah struktur yang ditetapkan oleh syariah, antara lain khalifah, para mu’awin (pembantu khalifah), para wali (gubernur), hingga para qadhi (hakim), petugas administrasi dan majelis umat. Dalam sistem ekonomi Islam terdapat berbagai hukum syariah yang berkaitan dengan tanah dan kepemilikan, aturan-aturan tentang industri, serta perdagangan domestik dan luar negeri. Terkait dengan politik luar negeri Khilafah, kita juga akan menemukan hukum-hukum syariah tentang tentara Islam berikut persiapan yang harus mereka lakukan dalam rangka menghadapi tugas-tugas yang diemban, yaitu menyebarluaskan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.
Khatimah
Benar. Dunia, termasuk Indonesia, memang membutuhkan sistem alternatif. Sistem itu adalah sistem Khilafah, bukan yang lain. Bahkan keyakinan semacam ini pun berkembang di kalangan intelijen dan ahli strategi. Baru-baru ini AM Hendopriyono menyatakan, “Setelah tesis Liberalisme-Kapitalisme gagal mensejahterakan dunia, Kekhilafahan seharusnya muncul sebagai penggantinya. Karenanya, Islam perlu menjawab tantangan globalisasi dengan membangun Khilafah Universal. Hanya sistem inilah yang bisa mengatur dan mensejahterakan dunia, karena tatanan Sekular-Kapitalisme telah gagal.” (Sabili, no 19 TH XVI, 9 April 2009, hlm. 28).
Pernyataan seperti ini memang bukan hal baru. Bahkan ahli strategi AS dan Rusia, termasuk NIC, sebelumnya pernah menyatakan bahwa Khilafah akan tegak kembali.
Inilah jalan baru yang dibutuhkan oleh dunia, termasuk Indonesia saat ini. Jalan inilah yang akan mengubah wajah dunia yang didominasi oleh kezaliman menjadi wajah dunia yang adil dan makmur. Jalan itu pun telah dirintis oleh Hizbut Tahrir sejak tahun 1953. Dari bagian barat, ruangan Masjidil Aqsa, 56 tahun silam, jalan baru itu dirintis oleh seorang pemikir, politikus ulung dan mujtahid mutlak, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani. Kini jalan baru itu telah diemban oleh jutaan umat Islam dan berkembang di lebih dari 40 negara. Wajar jika ada yang mengatakan, Hizbut Tahrir saat ini telah menjelma menjadi kelompok politik terbesar di seluruh dunia, bukan hanya di Dunia Islam, tetapi juga di Barat dan Timur. Tentu saja, semuanya ini berkat komitmen dan keteguhannya, dan yang pasti berkat izin dan pertolongan Allah SWT semata.
Hizbut Tahrir bersama umat Islam di seluruh dunia kini siap menyongsong kabar gembira, yakni dengan kembalinya Khilafah ’ala minhaj an-Nubuwwah.
وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ () بِنَصْرِ اللَّهِ
Pada saat itulah, hati seluruh kaum Mukmin akan bergembira karena pertolongan Allah (QS ar-Rum [30]: 4-5).
KOMENTAR AL-ISLAM:
‘Doakan Negeri Ini Damai’ (Republika, 13/4/2009)
Tegakkanlah syariah dan Khilafah, pasti kedamaian senantiasa terwujud.
Ingat lah ini Karena Ketiadaan Khilafah
Pengacara Internasional Dorong Disintegrasi Papua
‘Akan diluncurkan International Lawyers for West Papua (ILWP) di AS tgl 3-5 april 09, tujuan ILWP adalah advokasi politik internasional yang menghimpun pengacara-pengacara internasional untuk mendorong terjadinya referendum bagi Papua Barat. Koordnator ILWP di AS adalah Mrs.Melinda Jankie dan Benny Wenda di London’.(sumber;ILWP-di papua).
KOMENTAR:
(1) Ini modus lama: kaum Kafir penjajah, bekerjasama kelompok misionaris dan Kristen, untuk menjajah dunia Islam, sebagaimana yang dilakukan terhadap Khilafah Utsmani;
(2) Untuk menghentikan tindakan ini, para penguasa harus melakukan langkah-langkah politk yang berani, termasuk berhadapan kekuasan Kafir penjajah. SAYANGNYA para penguasa yg ada TIDAK BERANI MATI SYAHID untuk membela negerinya. NEGERI INI BUTUH KHALIFAH, yg menjadi panglima para syuhada’. (Lajnah Siyasiyah)
ISLAM KAFFAH
ISLAM KAFFAH WAHAI PARTAI_PARTAI ISLAM.
Pertama sekali saya ingin menyerukan kembali kepada Kaum
Muslimin yang terlibat dengan Partai-partai Islam. Khususnya bagi Partai Islam yang
menggunakan Sistem Parlemen atau masuk ke Sistem Sekuler Republik Indonesia
saat ini sebagai theriqoh atau metode dalam menegakkan syari’ah Islam di Bumi
Negeri Tercinta ini. Karena tentunya itu semua akan menjadi usaha yang sia-sia
dan jauh dari keberhasilan. Justru perjuangan dengan masuk ke sistem sekuler
Republik Inonesia akan mempersulit terwujudnya penegakan Islam secara Kaffah, kepada
PKS, PPP, PKB, dan partai Islam lainnya segera lah menjadikan penegakan
Khilafah menjadi tujuan pergerakan anda. Karena hanya dengan tegaknya
Khilafahlah Islam Kaffah dapat kita rasakan, kecuali Partai-partai Islam
tersebut memang tidak menyadari hakekat Islam Kaffah yang sebenarnya, atau
termasuk bagian dari aliansi negeri-neger Kafir Musyrikin. Maka dalam tuliasan
kali ini, saya akan menuliskan apa itu Islam Kaffah.
ISLAM KAFFAH
Penerapan syariah Islam harus kaffah.
Pelaksanaannya juga harus semua pihak, baik individu, kelompok maupun negara.
Dalam konteks negara, pemerintah pusat harus Islam secara kaffah. Jika tidak, penerapan syariah Islam di daerah akan
mendapatkan kendala.
Boleh jadi beberapa daerah dapat
menerapkan syariah Islam, tetapi tidak sesuai harapan. Daerah-daerah yang
menerapkan sebagian syariah Islam hanya dapat melaksanakan hal-hal yang artificial
seperti: mendorong baca tulis al-Qur’an; melarang minuman keras, judi, dll.
Namun, tetap saja ia tidak dapat menghentikan pelacuran, pergaulan bebas dan
perilaku seks menyimpang karena pemerintah pusat membiarkannya; tidak dapat
mencegah privatisasi milik umum yang justru merupakan program pemerintah pusat;
tidak dapat mencegah pornografi-pornoaksi yang dibiarkan pusat; tidak dapat
menghentikan intelijen luar negeri karena dilegalkan oleh pemerintah pusat;
tidak dapat menyetop pembunuhan karena hukum yang diterapkan sama dengan hukum
Belanda yang ditetapkan pemerintah pusat; dsb. Artinya, banyak sekali kendala
yang dihadapi daerah.
Pada sisi lain, penerapan syariah
Islam secara parsial tidak akan dapat menyelesaikan masalah secara keseluruhan dan tuntas. Lanksana
obat, kalau ada 7 macam obat bagi seseorang yang sakit maka tidak cukup jika
yang dimakan hanya satu macam. Apalagi jika dimakannya tidak sebagaimana
mestinya. Jangan heran jika sakit tidak sembuh.
Berdasarkan hal tersebut, yang
harus menerapkan syariah Islam adalah negara secara keseluruhan; juga bukan
hanya dalam satu atau dua persoalan,
melainkan dalam segala aspek. Dengan kata lain, kita butuh penerapan syariah
Islam secara kaffah. Begitulah kalau
kita hendak secara sungguh-sungguh mengurusi urusan umat.
Walhasil, kemenangan partai politik Islam tidak bias
diukur melalui kemenangannya dalam Pemilu atau melalui kemenangan
kader-kadernya dalam Pilkada. Kemenangan partai Islam sejatinya ditentukan oleh
keberhasilannya mendorong negara untuk menerapkan syariah Islam secara total
demi mengatur berbagai urusan masyarakat dengan dukungan penuh mereka. Let struggle
for Khilafah. Wallahu a’alam bi
ash-shawab.
Akhwat-akhwat..?
Akhwat yang JUTEK abis
saat terenyum sangat MANIS..
bikin ikhwan jantungnya kronis.
Akhwat yang MANIS biasanya COOL Abis
bisa-bisa ikhwan menangis
lihat Akhwat yang selalu optimis
menjadi aktivis anti kapitalis
Akhwat yang modis
dengan kerudung dan gamis
bukan kaum feminis
yang styles and minimalis
Indahnya Akhwat saat mendekat
bikin hati Ikhwan terpikat
He…he..hee…. Awas Khalwat
jangan ikhtilat and jangan MAKSIAT
tahan pandanganan or MUNAKAHAT….
Happy Happy Happy hee hee
Mahasiswa Dimana Anda Sekarang???
Namanya Raihana. Dia bernyanyi dengan suara serak-serak kering. Susah
payah. Terputus-putus. Belum selesai satu bait, bis DAMRI mulai bergerak maju
lagi. gadis kecil berbaju kusam itu buru-buru menyodorkan kantong recehnya
pd penumpang. Seratus, dua ratus, ah… Berapalah yang dia dapat, tapi
bibir kecilnya tetap menyunggingkan senyum kecil penuh kesyukuran.
Kaki kecilnya setengah melompat ke aspal yang panas. Lincah, karena
sejak kecil ia melakukan itu. ia menepi, di bawah pohon di pinggir
selokan. ia meraih boneka usangnya. Mungkin berharap bisa bermain sejenak
sebelum bis berikutnya berhenti dan ia melompat kembali untuk bernyanyi,
masih dengan suara sumbangnya…
Ia melintasi jalan-jalan kota yang panas, padat dan sering kali tak
ramah. Lihatlah mata bening di antara wajah yang kusam itu, ada binar di
sana. Entah apa mimpinya. Mungkin dia percaya, dia yakin nasibnya akan
berubah. Atau.jangan -jangan dia bahkan tak mengerti tentang nasib yang
bisa berubah dengan doa, dengan usaha. Mungkin ia mengira ia akan hidup
seperti itu selamanya, seperti ibunya yang sering meneriakinya dengan
kata-kata kasar. yang ia tau saat ini tempatnyadi jalan-jalan, di bis,
dengan kencrengan tutup botol. Alat musik yang begitu sederhana.
"Ah anak jalan. Kalo dikasih uang, mereka makin betah dijalan dan
meminta-meminta seperti itu!" celetuk seseorang di dalam bis DAMRI
Jurusan Batu Merah-Batam Centre.
Lalu aku? Haruskah seumur hidupku melihat ketidak berubahan itu? Ia kecil, lemah, tak sekolah. Bagaimana ia bisa berusaha jika bangku-bangku sekolah begitu diskriminatif, menepikan mereka yang tidak memiliki segepok baiya sekolah. Bagaimana ia bisa berubah, jika manusia-manusia kota sibuk mengurus diri masing-masing.
Katika pagi aku berangkat, dia sudah di sana. Ketika aku makan siang dengan teman-teman kuliah dan menu cukup gizi, ia masih di sana, menggenggam palstik es teh. Sore ketika aku pulang, ia masih di sana. Pun ketika aku akan berbaring di kasur yang nyaman, entah ke mana ia akan pulang.
Lalu bagaimana ia akan berdoa, jika sempitnya hidup membuat ibunya tak sempat mengenalkannya pada sang Rabb, Ilah yang memberikan nyawa, nafas, darah, menglihatan, perasaan… ia tidak sempat berfikir bagaimana ia bisa berada di muka bumi yang panas ini, dan untuk apa? Bagaimana ia bisa berdoa, dengan bahasa dan cara apa, jika ia bahkan tidak tau siapa Tuhannya?
Dan aku? Dengan kecongkakan label mahasiswa dan aktivis, hanya menoleh pada peran-peran yang akan mendongkrak label besarku. Berpusar di sekitar masjid. Padahal banyak yang belum tau di mana letak masjid. Mengatakan kezuhudan, namun tak sempat menoleh untuk melihat mereka yang kepanasan dan kelaparan.
Lalu… Dengan wajah seperti apa aku mampumenghadapMu, Allah? Dengan jawaban apa, dengan alasan apa, karena ternyata di dalam diriku, hartaku, ada haknya. Haknya untuk kukenalkan padaMU. Haknya untuk 2, 5 bagian dari rizkiku yang Kau titipkan. Maafkan Fuliza.. Ya Rabbi.
Ya Rabb, Kemana Cinta ini,,,,,?
Akhi wa Uhkti, La ya akhi, hazal yawmu yawmul Isnin.
Aina anta ya muslimun..? Afwan ya Akhi, saya tidak bisa berbuat apa-apa ketika kehormatanmu, ketika kalian terzalimi..
Yup, hari hari Senin, Setelah Jum’at, Sabtu ngga mampu datang kekampus, akhirnya sampai juga di kampus Tercinta.
Kampusku, Ya Allah, Adek-adekku..
hmm, Tingkah laku mereka membuat diri ini iri, habis saat seperti mereka Diri ini tidak berani melakukannya. Sedih memang waktu itu , ketakutan dan ketabuan menghantui kepala ini. Betapa tidak, didesa yang tercinta Ikhwan dan Akhwat begitu tabu untuk berbuat demikian, tetapi di sini, dihadapan mata ini, wesss, seakan tiada duanya.
hhhh, gerah memang, tapi Rabb, Ngkau memberitahu bahwa janji Mu sangatlah tepat. Andaikan hidup ini hanya cukup di dunia ini saja, maka benarlah pikirku yang merasa rugi tidak seperti mereka. Syukurlah, kepastian akan hari akhir, hari hisab, begitu jelas dan memuaskan akal ku, Alhamdulilllah.
Baik, diri ini tdk kan rela untuk menirunya, meskipun sampai akhir hayat. Fitrah untuk naluri yang satu ini, tidak akan membuatku mati jika belum bisa memenuhinya saaat ini. Gelisah? bisa aku hilangkan dengan selalu menyadari kedekatan akan Rabbku. Nikmat dari sang Khalik lebih layak untuk dinantikan, tentunya hanya dengan penantian " Hidup Mulia dengan syari’at Islam atau Syahid dalam menegakkan Syari’at Islam melalui Tegaknya Daulah". So cinta hanya kepada Islam. Yesssss. Akhi wa Ukhti minta do’anya ya.see ya.
Mars Remaja Islam
#Remaja Islam, Siapkan diri untuk mengisi Hidup,Lebih Berarti,
Hai Remaja Islam,,,Jangan Terlena Kehidupan.. Dunia Yang Fana.
Isilah Hidupmu dengan Taat….!
Jadikan Usiamu Bermanfaat..
Jangan Biarkan Waktu terlewat…
Tanpa amaliah dunia akhirat…
Ayoooo, Remaja Islam,
Mariiii,Susun barisan
Perkokoh Iman, amalkan.. Islam.
Taati syari’ah, tegakkan Khilafah.
Ayoo,Remaja Islam,
Mariii, Susun barisan,
Perkokoh Iman, amalkan Islam,
Taati syariah, tegakkan khilafah.
Taati syari’ah tegakkan khilafah.
3X #.
Cinta Kami Ya Rasul
Kehidupan Dunia ini begitu gelap. Penuh tipuan, laksana fatamorgana. Seringkali yang salah terliaht benar, dan perkara benar seakan-akan salah. Jalan ke sorga diselimuti hal-hal yang dibenci nafsu, sementara jalan ke neraka justru kelihatannya indah dan diminati syahwat.
Cahayamu wahai Rasul, Nabi pilihan, memenuhi alam semesta
Wahai, kekasihku, Muhammad penghulu para Rasul
Allah yang Maha Agung, Memberimu kemuliaan keindahan
Wahai matahari kesempurnaan, Wahai cahaya mataku
Telah sempurnalah engkau, Dipuncak ketinggian kemuliaanmu
Dia dan engkau senantiasa saling mendekat
Ya Allah yang Maha Indah, Sampaikanlah salam kami semua
Padanya pemberi syafaat, manusia terbaik
Wahai Sang Maha Pemurah, Sampaikanlah salam sholawatku
Baginya cahaya kebahagiaan dunia dan akhirat.
Hikmah Yooooohaaaa
"Jika Allah menahan pemberian-Nya padamu, maka pahamilah bahwa itu
adalah suatu (kemuliaan) untukmu selama kau pertahankan keislaman dan
keimananmu, higga segenap apa yang dilakukan Allah kepada dirimu
menjadi karunia pula kepadamu".(Ibnu Athaillah)
Next>>>
Sahabat itu adalah dorongan ketika engkau hampir berhenti, petunjuk
jalan ketika engkau tersesat, membiaskan senyum sabar ketika engkau
berduka, memapahmu saat engkau hampir tergelincir, dan mengalungkan
butir2 mutiara doa pada dada mu